Hari Kamis 28 Maret 2013. Merupakan hari yang cukup apes buat saya. Sebenarnya tidak terlalu apes juga, hanya saja mungkin saya sendiri terlalu mengharapkan yang tidak mungkin, jadi melakukan sesuatu yang akhirnya membuat diri sendiri kecewa. Maklum, emang agak agak berjiwa pemimpi. Hooo...ho ho ho ho ho ho... (ketawa keracunan drama).
Jadi pada kamis itu... pagi harinya ada kucing item lewat halaman rumah. Ibu, kakak, dan saudara yang ada di sana tiba-tiba histeris "Mip... mip... aya ucing..!! Dieu Mip, aya ucing..!!" (sini mip ada kucing). Saya yang sedang asyik di depan laptop, tidak terpengaruh sedikit pun. Saya pikir, "kucing lewat aja kok heboh banget." Karena itu saya lebih memilih diam seakan tidak terjadi apa-apa.
Beberapa waktu kemudian, di sela waktu sebelum berangkat kuliah, saya mencoba melihat keluar. Dan... saya melihat kucing hitam bagus (item, sampe bulu di perutnya juga item. Bulunya ngembang kayak kucing persia... atau apalah) dan sikapnya pun terlihat seperti kucing peliharaan ( Tapi di bagian kepala si kucing terlihat dua bekas luka. Bisa disimpulkan kucing ini udah nyasar cukup lama dan sempat berantem dengan kucing lain). Karena penasaran, saya coba tangkap. Dan si kucing pun pasrah tanpa perlawanan.
(dialog yang sebenarnya menggunakan bahasa sunda)
"Ini kucing bagus, ya?" tanya saya, basa basi.
"Dari tadi dipanggil ngga muncul-muncul." kata salah satu saudara yang ada di situ.
"Ini pasti kucing punya orang. bagus gini. punya siapa ya kira-kira?" tanya saya lagi.
"Ngga tau, mip. Dari tadi di sini. Tadi sempet pergi tapi balik lagi ke sini." jawab kakak.
"Udah dikasi makan?" tanya saya lagi, berasa wawancara.
"Udah dikasi ayam goreng tadi tapi ngga mau." jawab ibu.
Hmm... Saya berpikir sejenak. Gimana kalau kucing ini dipelihara saja? Minimal sampai si kucing ini inget lagi ke rumah majikannya atau sampai majikannya (yang beneran) datang.
Berhubung Saya sangat suka kucing tapi belum sempat memelihara lagi, (males beli euy... pas liat ke BIP harganya jutaan, langsung lemes) saya langsung minta persetujuan orang rumah untuk memelihara ini kucing. Dan... singkat cerita diijinkan.
"Oke, pertama-tama mari kita kasi makan ini kucing. Hmm... dikasi ayam goreng ga mau. Dan... kucing kayak gini sayang banget kalo dikasi ikan asin, nanti bulunya rontok," dialog saya dalam hati.
Dan akhirnya saya pun mengambil inisiatif untuk mencari pakan kucing yang sesuai. Karena yang sering muncul di TV adalah makanan kucing merk Wh*sk*s, saya pun bergegas mencari produk tersebut di mini market sekitar. Sebelum meninggalkan halaman rumah tempat si kucing berada, udah kayak orang gila saya berdadah-dadah ke si kucing.
"Meng, diem di situ. Saya mau beli makan buat kamu dulu."
Dua mini market di sana tidak menyediakan pakan kucing yang saya cari. Saya mulai putus asa. Tiba-tiba saya teringat obrolan dengan ibu tentang kucing milik pedagang sekitar (nu boga warung/yang buka usaha warung gampangnya disebut apa, ya?). Kata ibu, pemilik warung tersebut punya kucing peliharaan yang sering "dimanjain" juga. Hmm.. tidak ada salahnya coba saya mampir ke warung tersebut.
Sesampainya di warung...
"Pa, ada sejenis Wh*sk*s?" tanya saya, udah mulai lieur dan frustasi karena ga nemu-nemu.
"Pakan kucing? Adanya Pr*pl*n," tawar bapak penjaga warung.
"Ya udah pak, itu aja," jawab saya, pengen cepet.
"Kucingnya baru beli?" tanya si bapak penjaga.
"Ngga, pak. Ada kucing item tiba-tiba datang. dikasi makan ayam goreng ngga mau. Yah, ceritanya mau dipelihara minimal sampai itu kucing inget dimana rumahnya atau majikannya dateng buat ambil itu kucing," jawab saya lagi. Udah ngga jelas antara jujur dan pengen buru-buru.
Setelah membayar pakan kucing berukuran kecil seharga dua puluh ribu tersebut (edan, elit banget. 20 ribu cuma dapet kemasan kecil), saya pun segera meluncur ke rumah. Saat itu, saya benar-benar tidak sabar ingin segera memberi makan kucing yang nyasar tadi. Tapi setelah saya sampai di rumah...
"kucing tadi mana, ya?" tanya saya, mulai linglung karena tidak melihat kucing yang mau saya beri makan.
"Tadi sih di situ, tapi kayaknya belum pergi," jawab saudara yang dari tadi di situ. Tapi saya juga yakin dia ngga melototin si kucing juga.
"Ya udah, mip. Mending sekarang cepet-cepet berangkat kuliah aja. Nanti kalo kucingnya ada lagi ibu kasi makan," saran ibu.
Sebenarnya sih, berhubung itu kucing dari awalnya udah "kucing nyasar", memang ngga ada jaminan kucing itu bakal tetep diem di rumah tanpa dikandangin atau diiket. Tapi ya mau dikandangin juga... ga ada kandang yang cukup bersih buat itu kucing dan kalau diiket juga ga enak, selain itu, kucing tadi bukan milik saya secara resmi, saya juga ngga suka ngiket kucing. Mau ga mau, terima nasip aja deh...
Dan sampai hari ini si kucing pun tidak menampakkan wujudnya lagi.
Pelajaran yang saya dapatkan dari kejadian si kucing tersebut adalah...
Kita bisa merencanakan sesuatu (apalagi buat pemimpi seperti saya, belum apa apa udah ngayal kemana-mana), tapi karena kenyataan sering tidak sesuai rencana, sebisa mungkin usahakan untuk siap menanggung resiko.
Dan berusaha untuk konsisten menerima resiko tersebut. (yah, beberapa kasus kadang ada orang yang udah tahu resiko dari suatu tindakan tapi ketika apes kena resiko malah cari-cari alasan).
Semoga si kucing dapat kembali ke rumah majikannya yang sebenarnya dan kembali menjalani kehidupan yang tenang seperti sediakala. (udah kayak apa aja)
Semoga menjadi inspirasi.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar